Saat kaki menapaki puncak bukit bagian dari Pegunungan Gede di Desa Juruk Badung, Jasinga, Bogor, itu, suasana hening dan berkabut menyambut. Untuk sampai di ketinggian seribu meter di atas muka air laut itu dibutuhkan perjuangan. Menjejaki jalan setapak tanah liat sepanjang hampir empat kilometer yang sebagiannya berupa tanjakan curam. Sekitar tiga jam berjalan kaki dari ujung desa.

Pohon-pohon berkayu besar tegak rapat bercampur alang-alang merupakan vegetasi yang khas dataran ini. Sekitar 20 tenda biru tersebar di bawah pohon-pohon besar, menempati beberapa shelter berukuran dua-tiga meter persegi yang dibuat di dekat tubir jurang.

Satu per satu lelaki dengan badan berlu-mur lumpur muncul dari lubang-lubang yang tersebar di punggungan bukit itu. Lampu senter yang diikatkan di kepala mereka masih menyala. Beberapa lelaki itu membawa sekarung tanah. Beratnya sekitar 40 kilogram.

Kawasan Ini menjadi magnet bagi para pemburu emas selama dua tahun terakhir. Ada sekitar 200 penambang di sini, Mas, ujar Ucay, 26 tahun, salah satu penambang asal Jampang, Sukabumi. Dari satu kantong tanah yang digali dari dasar lubang, mereka mengaku bisa mendapatkan dua hingga 15 gram emas, tergantung peruntungan.

Bagi para penambang emas tradisional, Pegunungan Gede adalah terminal terakhir. Umumnya, sebelum berlabuh di sini, mereka sudah berkeliling kawasan pertambangan yang ada di Indonesia, seperti Pongkor, Ciko-tok, Banyuwangi, Bengkulu, Aceh, Buyat, dan Papua. Di sini tenang dan hawanya sejuk. Tak seperti di tempat lain yang bisa saling bunuh untuk memperebutkan lubang emas, ungkap salah satu penambang, yang dlangguki oleh lainnya.

info pasar lukisan http://lukisanpegunungan.com/